Thursday, July 4, 2013

CERITA ANAK "TERCEBUR DI PARIT"

Tercebur di Parit
Pada suatu hari, di sore hari yang cerah aku diajak bermain oleh teman-temanku. Hari itu kami berencana untuk bermain layang-layang di pinggir sawah. Meskipun aku tidak mempunyai layang-layang, aku tetap diajak oleh teman-temanku yaitu Sinta, Riski, dan Bayu. Kami suka menerbangkan layang-layang di sawah karena anginnya kencang  dan tidak ada pohon yang menghalangi. Aku merasa senang dapat menikmati sore itu bersama teman-temanku.
Sebelum pergi, aku meminta izin kepada ibuku. Ibuku sudah mengenal ketiga temanku. Aku diizinkan pergi ke sawah. Akan tetapi, aku dinasihati ibuku untuk berhati-hati. Ibuku khawatir karena hari sudah sore. Apalagi, di dekat sawah ada parit yang cukup lebar. Aku dan ketiga temanku dipesan untuk saling menjaga satu sama lain. Ibuku meminta kami pulang sebelum petang.
Aku yang merasa senang kurang mendengarkan nasihat ibuku. Aku dan teman-temanku langsung berlari menuju sawah. teman-temanku telah membawa layang-layang yang dibawa dari rumah beserta benangnya. Kami berjalan beriringan di pinggir sawah mencari angin yang tepat untuk menerbangkan layang-layang. Karena terlalu asyik, aku dan teman-temanku tidak memperhatikan parit yang ada di sebelah kami.
“Wah, di sini anginnya bagus!” kata Bayu.
“Iya, bagaimana kalau layang-layangnya diterbangkan di sini saja?” tanya Sinta.
“Aku setuju,” jawab Riski.
“Biar aku bantu memegangi layang-layangnya,” pintaku.
“Benar, tolong punyaku dulu, Asti!” pinta Sinta.
“Oke!” seruku.
            Kemudian, aku bergerak mundur untuk mengulur layang-layang Sinta. Aku terus bergerak tanpa memperhatikan langkahku. Akibatnya, tiba-tiba kakiku tersandung batu di dekat parit. Aku tercebur ke dalam parit tersebut.
            Sinta, Riski, dan Bayu yang mengetahui kejadian tersebut merasa kaget. Mereka langsung berlari menuju tempatku terjatuh. Seluruh badanku berada di air. Untungnya, parit tersebut tidak terlalu dalam. Riski dan Bayu langsung masuk ke dalam parit dan menolongku keluar dari parit. Kemudian Sinta memegang badanku untuk diajak pulang. Riski dan Bayu mengikuti dari belakang.
 “Asti, kamu tidak apa-apa?” tanya Riski.
“Iya, tidak apa-apa. Tadi hanya tersandung batu yang ada di situ,” jawabku.
“Seharusnya kamu tadi lebih hati-hati, Asti,” tambah Bayu.
“Iya, terima kasih sudah menolongku tadi,” balasku.
“ Ayo, aku antar kamu pulang,” kata Sinta.
Setibanya di rumah, ibuku kaget melihat anaknya basah kuyup. Ibuku langsung bertanya kepada Sinta. Lalu, Sinta pun menjelaskan dengan jujur tentang peristiwa yang terjadi padaku.
“Sinta, apa yang terjadi dengan Asti? Mengapa basah begitu?” tanya ibu.
“Anu Bu, tadi Asti terpeleset dan jatuh ke parit,” jawab Sinta.
“Ya ampun, mengapa bisa terpeleset? Bagaimana kejadiannya?” tanya ibu lagi.
“Tadi Asti mau membantu Sinta menerbangkan layang-layang dan tidak melihat ada batu di dekat parit. Asti tersandung dan tercebur ke parit. Bayu dan Riski tadi yang menolong Asti keluar dari parit, Bu,” jelas Sinta.
Setelah mengerti, ibuku berterima kasih kepada Sinta, Riski, dan Bayu karena sudah menolongku. Kemudian, mereka pulang karena hari sudah petang. Ibu kemudian bertanya tentang keadaanku. Aku menjawab bahwa aku tidak apa-apa. Sesaat kemudian, aku merasa mual-mual dan akhirnya muntah. Hal ini karena aku tadi sempat meminum air yang ada di parit. Ibuku merasa sedih melihat keadaanku.
Setelah itu, ibu membantuku membersihkan badanku yang kotor dan basah. Ibu juga sempat memarahiku karena tidak mendengarkan nasihat beliau. Meskipun dimarahi, aku diam karena aku tahu kesalahanku. Kemudian, ibu menyuruhku mandi agar badanku benar-benar bersih.
Setelah selesai mandi, aku menemui ibu yang sedang menyiapkan makan malam. Aku meminta maaf kepada ibu karena tidak mendengarkan nasihat beliau dan membuat beliau menjadi khawatir. Aku juga berjanji akan lebih berhati-hati lain kali. Ibu senang mendengar perkataanku. Ibu tersenyum dan menyuruhku makan.



No comments:

Post a Comment